Minggu, 27 Januari 2013

Pengalaman yang tidak pernah terlupakan.


Pengalaman yang tidak pernah terlupakan.

Waktu saya masih kecil, kira kira umur 4 tahun. Pernah pada suatu hari, saya di ajak sama ibu saya untuk mendampingi ibu untuk senam di gor desa. Setalah sampai di gor desa tersebut, ibu saya bilang dalam bahasa sunda “ antosan di dieu nya, tong kamamana “ dan pada waktu itu, saya hanya menganggukan kepala saya. Setelah itu ibu saya dan teman teman nya senam, dan saya berkeliling di sekitar depan gor tersebut, dan mendekati ke pagar besi yang di dalam pagar besi tersebut terdapat villa, dan saya hanya diam saja di dekat pagar besi tersebut sambil melihat ibu saya yang sedang senam tersebut, singkat cerita tiba tiba ada seorang anak yang umur nya  1 atau 2 tahun di atas saya, yang menatap saya dan kemudian si anak tersebut memasukan kepalanya ke dalam pagar besi tersebut, dan saya penasaran, dan akhirnya saya mencoba memasukkan kepala saya ke dalam pagar besi tersebut, dan ketika kepala saya sudah masuk dan saya menengok ke samping, tiba tiba si anak tersebut sudah tidak ada, dan saya mulai merasa sakit di leher saya, dan saya ingin mengeluarkan kepala saya, ketika itu saya sedikit kesulitan, dan rasa sakit di leher saya yang kecekik oleh pagar besi yang tersebut semakin terasa sakit, saya mencoba untuk mengeluarkan kepala saya itu, namun pada akhirnya tetap tidak bisa, dan pada akhirnya saya menjerit jerit kesakitan, dan memanggil manggil ibu saya dengan suara keras seperti ini “ mamaaaaaaaaah, mamaaaaaaaaah “ akan tetapi ibu saya itu tidak mendengar suara jeritan saya, dan di tambah musik dari radio yang sangat kencang, sehingga ibu saya tidak mendengar kalau saya menjerit jerit memanggilnya. Saya tidak menyerah, tetap saya memanggil manggil ibu saya, dan untungnya ada seorang bapak bapak yang habis badminton yang melihat saya, dan bapak bapak itu menjerit ke orang orang yang sedang melakukan senam, dan pada akhirnya saya di tolongnya dengan di bukakannya pagar besi tersebut oleh salah seorang bapa bapa dig or desa tersebut, dan ketika itu orang orang yang ada di sana mengerubuni saya termasuk ibu saya dan teman teman senamnya, dan setelah pagar besi tersebut berhasil di buka, dan untunglah saya selamt, lalu ibu saya memeluk saya dengan wajah khawatir sekali, dan saya menangis di pangkuan ibu saya.

Itulah, pengalaman saya yang tidak akan pernah terlupakan. J


*sekian*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar